Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Museum Bahari Hadirkan Suara dari Muara, Mengajak Publik Mendengar Cerita Perempuan Muara Angke

13
×

Museum Bahari Hadirkan Suara dari Muara, Mengajak Publik Mendengar Cerita Perempuan Muara Angke

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Museum Bahari Hadirkan Suara dari Muara, Mengajak Publik Mendengar Cerita Perempuan Muara Angke

Jakarta, 4 Juli 2026 —

Example 300x600

 

Museum Bahari mengundang publik untuk mendengar Suara dari Muara, sebuah pameran yang menghadirkan kisah-kisah perempuan Muara Angke melalui gambar-gambar yang mereka ambil sendiri. Berlangsung hingga 31 Juli 2026, Suara dari Muara mengajak masyarakat untuk melihat kembali hubungan Jakarta dengan laut melalui cerita komunitas pesisir yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas kota.

Dikembangkan melalui kolaborasi antara Georgetown University School of Foreign Service in Asia-Pacific (GSAP), Museum Bahari, Yayasan Riset Visual Mata Waktu, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dan Climate Reality Indonesia, Suara dari Muara memadukan cerita, fotografi, dan instalasi seni dalam sebuah pengalaman yang mengajak pengunjung untuk memahami kehidupan masyarakat pesisir Jakarta.

Melalui metode Photovoice, sebanyak 20 perempuan Muara Angke menggunakan fotografi untuk mendokumentasikan kehidupan dan pengalaman mereka sendiri yang jarang terlihat oleh publik—mulai dari aktivitas di kampung nelayan, peran perempuan dalam menopang keluarga, hubungan dengan laut, hingga harapan mereka bagi masa depan komunitas pesisir. Bersama-sama, mereka menyusun narasi yang merepresentasikan keseharian, tantangan, serta harapan terhadap masa depan komunitas pesisir Jakarta.

Menurut metode Photovoice membuka ruang bagi komunitas untuk menyampaikan pengalaman hidup mereka secara autentik. Gunawan Widjaja, Kurator Suara dari Muara (Yayasan Riset Visual mataWaktu)

“Ketika masyarakat diberikan ruang untuk merekam dan menceritakan kehidupannya sendiri, yang lahir bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan pengalaman yang mampu membangun empati. Suara dari Muara mengajak kita mendengar cerita langsung dari mereka yang menjalaninya setiap hari.”

Sebagai tuan rumah, Museum Bahari sangat senang bahwa Suara dari Muara dapat pulang ke rumah. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman publik mengenai warisan maritim Jakarta yang tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang masyarakat yang hingga hari ini hidup dan bergantung pada laut.

“Museum Bahari ingin menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dengan cerita-cerita yang hidup di sekitar pesisir Jakarta. Melalui Suara dari Muara, kami mengajak pengunjung untuk datang, mendengar, dan memahami pengalaman perempuan Muara Angke sebagai bagian dari warisan maritim yang terus hidup hingga hari ini,” ujar Misari selaku Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Jakarta

Selain kisah-kisah yang dibangun melalui Photovoice, pengunjung juga dapat menikmati instalasi seni yang dibuat oleh dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggunakan cangkang kerang hijau dari Muara Angke. Material tersebut diolah menjadi karya yang merefleksikan kreativitas masyarakat pesisir sekaligus hubungan mereka dengan lingkungan di sekitarnya. Pengalaman ini juga diperkaya dengan dokumentasi visual dari Climate Reality Indonesia yang memberikan konteks yang lebih luas mengenai kehidupan di wilayah pesisir.

Momen pembukaan Suara dari Muara dirayakan melalui Pesta Rakyat, menghadirkan suasana khas kampung pesisir melalui jajanan tradisional, pertunjukan seni, dan berbagai aktivitas kebersamaan yang mempertemukan warga Muara Angke dengan masyarakat Jakarta.

“Pesta Rakyat ini bukan hanya selebrasi pembukaan pameran, tapi juga perayaan dari dan untuk masyarakat pesisir Jakarta yang sudah terlalu lama suaranya tidak didengar. Ketika kami mulai merancang proyek ini, kami tidak tahu sama sekali seperti apa hasilnya. Namun, para ibu-ibu Muara Angke telah menunjukkan kegigihan dan semangat yang luar biasa. Hari ini merupakan hari mereka,” ujar Prof. Elle Wibisono, Technical Director and Research Fellow at the Blue Lab (Georgetown SFS Asia Pacific).

Salah satu peserta dari Muara Angke, Ibu Nurweni,yang juga merupakan Ketua LMK (Lembaga Musyawarah Kelurahan) berharap pengalaman ini dapat membantu masyarakat mengenal kehidupan perempuan pesisir dengan lebih dekat.

“Kami berharap melalui karya-karya ini, masyarakat dapat melihat kehidupan kami apa adanya. Di balik hasil laut yang mereka nikmati setiap hari, ada perjuangan, ketidakpastian, dan kerja keras yang sering kali tidak terlihat. Kami ingin suara dan pengalaman kami juga didengar.”

Suara dari Muara dapat dikunjungi di Museum Bahari mulai 4 hingga 31 Juli 2026. Pengunjung tidak hanya akan menemukan rangkaian foto dan karya seni, tetapi juga diajak mendengar suara-suara yang lahir dari pengalaman nyata perempuan Muara Angke, sebuah pengingat bahwa kehidupan pesisir merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Jakarta.
Tentang Georgetown SFS Asia Pacific

Yayasan Georgetown Asia Pacific merupakan entitas lokal yang mengoperasikan Georgetown SFS Asia Pacific (GSAP), kampus cabang dari Georgetown University, Amerika Serikat, di Jakarta. Dan menjalankan kegiatan akademik dengan menggunakan nama Georgetown SFS Asia Pacific (GSAP). GSAP merupakan bagian dari Georgetown University, sebuah institusi pendidikan tinggi yang berbasis di Washington, D.C., Amerika Serikat. Berbasis di Jakarta, GSAP menyelenggarakan program akademik, riset kebijakan, serta berkolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk pemerintah, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan lainnya di kawasan. Melalui kegiatan pendidikan dan riset, GSAP berkontribusi pada pengembangan kebijakan berbasis bukti serta diskusi mengenai isu pembangunan, kebijakan publik, dan dinamika regional di Asia Pasifik dan Global South.

Tentang Museum Bahari

Museum Bahari, yang diresmikan pada 7 Juli 1977, merupakan institusi pelestarian warisan maritim Indonesia. Terletak di kawasan bersejarah Sunda Kelapa, museum ini menjadi ruang reflektif dan edukatif mengenai sejarah serta kekayaan warisan budaya maritim bangsa Indonesia.

Tentang Yayasan Riset Visual Mata Waktu

Yayasan Riset Visual mataWaktu adalah organisasi nirlaba yang berdiri sejak 2019, bergerak di bidang penelitian, pengarsipan, dan publikasi seni visual, khususnya fotografi. Kami hadir karena fotografi kerap dipandang sebelah mata, dianggap sekadar ilustrasi, padahal menyimpan jejak sejarah dan kondisi zaman yang tak tergantikan. Sayangnya, akses terhadap arsip semacam ini masih terbatas, membuat banyak periset dan masyarakat kesulitan menemukan sumber yang mereka butuhkan.

mataWaktu mengambil peran sebagai jembatan penghubung antara pemilik arsip dan mereka yang membutuhkannya, mempertemukan kepingan sejarah dengan orang-orang yang ingin memahaminya. Melalui penelitian dan publikasi yang kami lakukan, kami berharap dokumen visual ini dapat mencerahkan wawasan masyarakat secara lebih luas.

Kami percaya arsip seni visual adalah bagian dari identitas bangsa. Karena itu, mataWaktu terbuka bagi masyarakat umum, instansi, lembaga, komunitas, maupun perusahaan yang ingin berkontribusi atau berkolaborasi bersama kami—menjaga ingatan visual bangsa, sekaligus menjadikan pengetahuan sebagai budaya dalam masyarakat Indonesia.

Tentang Climate Reality Project

The Climate Reality Project Indonesia, sebagai bagian dari The Climate Reality Project, mendukung kegiatan lebih dari 1000 Climate Reality Leaders di Indonesia. Climate Reality menyampaikan fakta tentang krisis iklim dan melibatkan masyarakat dalam memahami tentang bagaimana mengatasinya. Misinya adalah katalisasi solusi global terhadap krisis iklim dengan menjadikan tindakan mendesak (urgent action) sebagai kebutuhan di setiap lapisan masyarakat. Didirikan pada tahun 2006 dan diketuai oleh Al Gore, peraih Nobel dan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Climate Reality telah melatih lebih dari 50.000 climate reality leaders dengan rentang usia antara 12 sampai 87 tahun yang mewakili 170 negara. Sebagai bagian dari dedikasinya, sejak 2011 Climate Reality Indonesia telah melatih hampir 3000 pemuda di seluruh Indonesia untuk menyikapi krisis iklim.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *