Perkuat Jejaring Kesehatan, Yayasan Kreshna Medika Ajak Komunitas Bergerak Bersama Lawan Stroke
Jakarta, Gramediapost.com
Kehadiran Yayasan KRESHNA MEDIKA di Munas Komunitas BEPers Indonesia 2026 menjadi bukti pentingnya kolaborasi lintas komunitas.
Yayasan menilai, masalah stroke dan penyakit degeneratif tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Dibutuhkan gerakan bersama antara rumah sakit, komunitas, pemerintah, dan masyarakat,” kata Ketua Umum Haryanto Suryo Panguripan.
Dalam forum tersebut, KRESHNA MEDIKA memperkenalkan pendekatan pemulihan holistik bernama SHINE.
SHINE mencakup Spiritual, Health, Inner Strength, Networking, dan Economic Empowerment.
Model ini lahir dari keprihatinan bahwa banyak penyintas stroke mengalami masalah sosial dan ekonomi setelah sakit.
“Mereka tidak hanya butuh obat, tapi juga dukungan mental, sosial, dan pekerjaan,” jelas Haryanto.
Pilar Networking dalam SHINE menjadi kunci untuk membangun ekosistem dukungan bagi penyintas.
Melalui jejaring ini, penyintas, keluarga, dan tenaga kesehatan bisa saling menguatkan.
Ketua Harian Suhadi SH menyampaikan bahwa yayasan telah berdiri sejak 2020 dan kini memiliki 6.800 anggota.
Anggota berasal dari penyintas stroke, keluarga, relawan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum.
Semua tergabung dalam Masyarakat Peduli Stroke yang menjadi garda depan edukasi di daerah.
Yayasan juga memiliki 2 pusat rehabilitasi dan bekerja sama dengan banyak RS di Indonesia.
Salah satu bentuk kolaborasi nyata adalah dengan Komunitas BEPers Indonesia melalui program latihan BIO ENERGY POWER.
Latihan ini menggabungkan olah napas dan olah gerak yang ramah bagi penyintas stroke.
“BEP bisa dilakukan siapa saja, bahkan yang mobilitasnya terbatas,” ujar Suhadi.
Selain kesehatan, yayasan juga fokus pada pemberdayaan ekonomi penyintas melalui pelatihan dan UMKM.
Tahun 2026 dijadikan tahun penguatan ekonomi agar penyintas bisa kembali mandiri.
Yayasan menggandeng lembaga keuangan dan pemerintah untuk mendukung program tersebut.
KRESHNA MEDIKA juga mendampingi penyintas mengakses hak disabilitas sesuai aturan yang berlaku.
Haryanto menyayangkan meningkatnya kasus stroke pada usia muda, termasuk usia 14 tahun.
“Ini tanda kita harus lebih serius mengkampanyekan hidup sehat,” tegasnya.
Pendekatan SHINE juga diterapkan untuk penyakit kronis lain seperti diabetes, jantung, dan kanker.
Ke depan, yayasan menargetkan go internasional dengan bergabung di World Stroke Organization.
“Harapan kami, setiap penyintas stroke bisa hidup sehat, produktif, mandiri, dan bermartabat,” tutup Haryanto.


















