Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Direktur Utama, CEO AsiaCommerce (PT Lintas Mitra Perkasa), Frans Setio Yuwono: Pelaku Industri Nasional harus Memiliki Strategi agar tidak hanya Menjadi Pasar, tetapi juga mampu Menciptakan Produk yang Kompetitif untuk Pasar Internasional.

17
×

Direktur Utama, CEO AsiaCommerce (PT Lintas Mitra Perkasa), Frans Setio Yuwono: Pelaku Industri Nasional harus Memiliki Strategi agar tidak hanya Menjadi Pasar, tetapi juga mampu Menciptakan Produk yang Kompetitif untuk Pasar Internasional.

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Direktur Utama, CEO AsiaCommerce (PT Lintas Mitra Perkasa), Frans Setio Yuwono: Pelaku Industri Nasional harus Memiliki Strategi agar tidak hanya Menjadi Pasar, tetapi juga mampu Menciptakan Produk yang Kompetitif untuk Pasar Internasional.

 

Example 300x600

JAKARTA, Milleniumpost.id

 

Persaingan bisnis yang semakin ketat membuat pelaku usaha, khususnya produsen lokal dan UMKM, tidak cukup hanya mengandalkan harga murah. Penguatan merek, peningkatan kualitas produk, inovasi, serta kemampuan membaca peluang pasar global menjadi faktor penting agar produk mampu bertahan dan berkembang.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama sekaligus CEO AsiaCommerce (PT Lintas Mitra Perkasa), Frans Setio Yuwono atau Frans Yuwono, saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk “Branding & Import 2026: Escaping The Price War With Branding & Trade Show Opportunities” yang merupakan bagian dari rangkaian Jakarta International Baby Products & Toys Expo and Indonesia Stationery Expo (IBTE), di Hall B & C, JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurut Frans, perkembangan produk global yang masuk ke berbagai negara, termasuk Indonesia, merupakan bagian dari dinamika perdagangan yang tidak dapat dihindari. Karena itu, pelaku industri nasional harus memiliki strategi agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga mampu menciptakan produk yang kompetitif untuk pasar internasional.

“Pada prinsipnya kita tidak bisa melawan perkembangan zaman bahwa pasti banyak sekali produk global akan masuk ke semua negara, termasuk Indonesia. Itu sesuatu yang tidak bisa kita lawan,” ujar Frans seusai seminar.

Ia menilai, tantangan tersebut justru harus dijadikan motivasi bagi pelaku usaha untuk terus belajar, melakukan eksperimen, meningkatkan kualitas, dan membangun produk yang memiliki daya saing. Dengan demikian, produk Indonesia tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk diekspor.

Frans mengatakan, AsiaCommerce sendiri tidak hanya bergerak dalam pengadaan atau sourcing barang dari luar negeri. Perusahaan tersebut juga mengembangkan aktivitas ekspor dengan membantu mempromosikan produk-produk Indonesia melalui berbagai jaringan dan pusat promosi perdagangan di luar negeri.

“Di AsiaCommerce kita bukan cuma import, tapi juga melakukan promosi barang agar kita bisa menjual produk Indonesia ke luar negeri,” jelasnya.

Ia menjelaskan, Indonesia masih memiliki kebutuhan terhadap berbagai produk yang belum seluruhnya dapat diproduksi di dalam negeri. Produk consumer goods seperti mainan, kosmetik, elektronik, dan berbagai kebutuhan lainnya masih membuka peluang impor. Namun, proses tersebut kerap dihadapkan pada regulasi dan berbagai ketentuan perdagangan.

Karena itu, menurut Frans, AsiaCommerce berupaya membantu menyederhanakan proses sourcing dari luar negeri sehingga pelaku usaha dapat memperoleh produk secara lebih mudah, legal, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Di sisi lain, Frans menekankan pentingnya keberanian pelaku UMKM untuk meningkatkan standar usahanya. Menurutnya, kenyamanan dengan kualitas yang sudah dimiliki saat ini tidak cukup untuk menghadapi persaingan global yang terus berkembang.

“Harus berani belajar dan harus bisa menerima kolaborasi. Kadang-kadang kita cukup nyaman dengan keadaan kita, tetapi sekarang kita tidak bisa lagi seperti itu. Kualitas harus kita naikkan lebih tinggi,” tegasnya.

Ia menambahkan, penerapan standar dan sertifikasi internasional seperti GMP maupun ISO dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kualitas sekaligus membangun kepercayaan terhadap produk. Standar tersebut juga dapat menjadi modal bagi pelaku usaha ketika hendak memperluas pasar hingga ke mancanegara.

Frans juga melihat pameran perdagangan seperti IBTE memiliki manfaat besar bagi produsen lokal. Selain menjadi ruang bertemu dengan calon mitra bisnis, pameran dapat dimanfaatkan untuk mengamati tren produk, teknologi, desain, serta kebutuhan konsumen yang berkembang di pasar global.

“Banyak sekali produsen lokal yang harus datang ke sini untuk belajar dan melihat apa yang bisa dikembangkan. Untuk membeli sampel sebenarnya tidak mahal. Bisa beli sampel, dilihat, kemudian ditiru dalam arti dikembangkan menjadi produk yang lebih baik,” katanya.

Menurut Frans, keberhasilan sebuah pameran pada akhirnya sangat ditentukan oleh terciptanya peluang bisnis konkret. Kondisi pasar yang tengah menghadapi berbagai tantangan memang dapat memengaruhi aktivitas transaksi, namun pameran tetap menjadi sarana strategis untuk membangun jaringan dan membaca arah perkembangan industri.

IBTE 2026 sendiri berlangsung pada 19–22 Agustus 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran ini menghadirkan beragam kategori produk, mulai dari mainan anak, mainan tren, perlengkapan bayi, alat tulis, hingga lisensi kekayaan intelektual, sekaligus mempertemukan produsen, distributor, importir, buyer, dan pelaku industri dari berbagai pasar.

Frans berharap pelaku usaha Indonesia tidak berhenti pada kemampuan memenuhi kebutuhan pasar domestik. Dengan peningkatan kualitas, branding yang kuat, kolaborasi, serta keberanian memanfaatkan peluang perdagangan internasional, produk lokal diharapkan mampu naik kelas dan memiliki posisi lebih kuat dalam rantai perdagangan global.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *