Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Kemenko PM Dorong Inovasi Pemberdayaan Masyarakat melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026

17
×

Kemenko PM Dorong Inovasi Pemberdayaan Masyarakat melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kemenko PM Dorong Inovasi Pemberdayaan Masyarakat melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026

 

Example 300x600

JAKARTA, Milleniumpost.id

 

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) mendorong semakin banyak inovasi yang mampu membawa perubahan nyata bagi masyarakat melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026. Tahun ini, perhelatan tersebut menarik 764 aktivitas dan inovasi yang melibatkan sekitar 1.600 penggerak, menunjukkan besarnya potensi gerakan pemberdayaan yang tumbuh di berbagai daerah.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa pemberdayaan harus menjadi jalan untuk membangun kemandirian masyarakat, bukan sekadar menyalurkan bantuan.

Menurutnya, masyarakat perlu didukung agar memiliki keterampilan, kesempatan, dan akses untuk mengembangkan potensi serta meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

“Pemberdayaan masyarakat harus menjadi kunci dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan mengentaskan kemiskinan. Kita tidak ingin masyarakat terus bergantung pada bantuan, tetapi harus mampu membangun kemandirian melalui penguatan keterampilan, perluasan akses ekonomi, dan pengembangan potensi lokal,” ujarnya.

Melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026, Kemenko PM ingin mendorong lahirnya inovasi yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Perguruan tinggi dan mahasiswa diharapkan menjadi bagian penting dari gerakan tersebut dengan menghadirkan gagasan, ilmu pengetahuan, dan solusi yang dapat diterapkan untuk menjawab persoalan di desa maupun berbagai daerah.

“Perguruan tinggi dan mahasiswa memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan. Kita ingin ilmu pengetahuan dan gagasan kreatif tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi diterapkan untuk membantu masyarakat mengembangkan potensi lokal, memperkuat usaha, dan meningkatkan kesejahteraan,” lanjutnya.

Sejak 2025, Kemenko PM menyelenggarakan Mandaya Awards sebagai bentuk apresiasi terhadap aksi nyata pemberdayaan yang dilakukan pemerintah daerah, sektor swasta, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat. Sementara itu, Innovilleague merupakan kompetisi yang mendorong mahasiswa menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat desa.

Seleksi Mandaya Awards dan Innovilleague 2026 melibatkan pakar lintas lembaga, termasuk Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, serta mitra pemberdayaan. Proses tersebut juga didukung Forum Rektor Indonesia (FRI) dan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI).

Penilaian berfokus pada dampak nyata, kebaruan inovasi, keterlibatan masyarakat, serta keberlanjutan program. Aspek-aspek tersebut menjadi penting untuk memastikan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya menawarkan gagasan baru, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Kemenko PM juga mendorong agar praktik pemberdayaan yang terbukti berhasil dapat dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain.

“Kita ingin inovasi pemberdayaan yang berhasil tidak berhenti di satu desa atau komunitas saja. Praktik baik harus dibagikan, dikembangkan, dan diterapkan di daerah lain agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat,” tegas Muhaimin.

Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, mahasiswa, dunia usaha, dan masyarakat. Sinergi lintas sektor diharapkan dapat memperluas kesempatan ekonomi, memperkuat kemandirian masyarakat, serta mempercepat pengentasan kemiskinan.

Melalui Mandaya Awards dan Innovilleague 2026, Kemenko PM ingin memperkuat ekosistem pemberdayaan yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif sebagai pelaku utama dalam mengembangkan potensi dan menentukan arah kemajuan daerahnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan tidak semata-mata diukur dari jumlah program yang dijalankan atau penghargaan yang diberikan, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat, mulai dari meningkatnya kemampuan dan produktivitas hingga terbukanya peluang ekonomi serta tumbuhnya kemandirian untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *