Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

HIPMI MINERS Gelar Mining Nation Revolution 2026: Forum  Mempertemukan Pemerintah, Pelaku Industri, Investor, Akademisi, dan Pengusaha dalam Mendukung Percepatan Hilirisasi Nasional.

9
×

HIPMI MINERS Gelar Mining Nation Revolution 2026: Forum  Mempertemukan Pemerintah, Pelaku Industri, Investor, Akademisi, dan Pengusaha dalam Mendukung Percepatan Hilirisasi Nasional.

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

HIPMI MINERS Gelar Mining Nation Revolution 2026: Forum  Mempertemukan Pemerintah, Pelaku Industri, Investor, Akademisi, dan Pengusaha dalam Mendukung Percepatan Hilirisasi Nasional.

 

Example 300x600

 

JAKARTA, 6 Agustus 2026 –

 

 

HIPMI MINERS menggelar Mining Nation Revolution 2026 di Pondok Indah Golf Course Ballroom, Jakarta, Kamis (6/8), sebagai forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, dan pengusaha untuk membahas peluang bisnis di sektor mineral dan batu bara, khususnya dalam mendukung percepatan hilirisasi nasional.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 18.00 WIB itu menghadirkan Grand Seminar yang diisi dengan keynote speech dan talkshow bersama para tokoh, regulator, serta pelaku industri yang selama ini berperan dalam pengembangan sektor mineral dan batu bara Indonesia. Selain seminar, kegiatan juga menghadirkan sesi business matching yang mempertemukan perusahaan pengguna dengan penyedia barang dan jasa di sektor pertambangan.

Ketua Panitia Mining Nation Revolution, Rhesa Avila Zainal mengatakan, program hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah telah membuka peluang usaha yang jauh lebih luas dibanding sekadar kepemilikan tambang maupun pembangunan smelter.

Menurutnya, keberhasilan hilirisasi sangat ditentukan oleh kuatnya rantai pasok nasional. Karena itu, berbagai sektor usaha seperti penyedia alat berat, bahan kimia, logistik, teknologi, jasa konstruksi, hingga layanan pendukung lainnya memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian dari ekosistem industri pertambangan.

“Hilirisasi tidak hanya berbicara mengenai tambang atau smelter, tetapi juga bagaimana pelaku usaha nasional mampu mengisi kebutuhan rantai pasok sehingga nilai tambah ekonomi dapat dinikmati lebih besar di dalam negeri,” ujarnya.

Rhesa berharap forum tersebut mampu membuka wawasan sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan perusahaan-perusahaan yang membutuhkan mitra strategis dalam mendukung pengembangan industri mineral dan batu bara.

Pada kesempatan yang sama, Ketua BPC HIPMI Jakarta Selatan Dzaki Adinda Husna menegaskan bahwa MINERS merupakan program yang dibangun sebagai ekosistem kolaborasi bagi pelaku industri pertambangan dan rantai pasoknya.

Menurut Dzaki, setelah penyelenggaraan perdana pada 2024 yang berfokus pada isu regulasi dan perizinan, MINERS kini diarahkan untuk memperluas kolaborasi bisnis dan membuka akses investasi sejalan dengan berkembangnya program hilirisasi nasional.

“MINERS bukan sekadar acara tahunan. Kami ingin membangun sebuah ekosistem yang mempertemukan pelaku usaha, perusahaan tambang, penyedia barang dan jasa, investor, hingga pemerintah agar lahir kerja sama yang saling menguntungkan,” katanya.

Ia menjelaskan sebagian besar perusahaan yang tergabung dalam MINERS merupakan perusahaan kontraktor dan penyedia barang maupun jasa yang berpotensi menjadi bagian dari proyek-proyek hilirisasi. Untuk itu, penyelenggara menghadirkan sesi business matching sebagai ruang mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan perusahaan nasional.

Puluhan perusahaan mengikuti pertemuan bisnis tersebut, termasuk perusahaan pertambangan, industri pengolahan mineral, penyedia jasa, akademisi, serta praktisi sumber daya manusia.

Sementara itu, Ketua Umum BPD HIPMI Jaya M. Riandy Haroen menilai MINERS telah berkembang menjadi program yang memberikan manfaat nyata bagi anggota HIPMI dalam memahami industri pertambangan secara lebih komprehensif.

Ia mengapresiasi Ketua Bidang ESDM BPD HIPMI Jaya Sally Giovanny beserta seluruh panitia yang dinilai konsisten mengembangkan program tersebut sehingga mampu menghadirkan ruang belajar sekaligus memperluas jejaring bisnis bagi para pengusaha muda.

“Selama ini banyak orang memandang industri tambang hanya dari sisi kepemilikan izin usaha pertambangan. Padahal, industri ini memiliki ekosistem yang sangat luas dan membutuhkan berbagai kompetensi. Karena itu, kita harus terus belajar agar mampu mengambil bagian dalam peluang yang tersedia,” ujar Riandy.

Menurutnya, proses hilirisasi akan melahirkan berbagai kegiatan ekonomi baru yang membutuhkan dukungan pelaku usaha nasional. Ia mencontohkan potensi pengembangan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) yang diperkirakan memiliki nilai ekonomi mencapai sekitar US$9,6 miliar per tahun, belum termasuk potensi dari komoditas mineral lainnya.

Riandy menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tantangan berikutnya adalah memastikan proses industrialisasi mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat keterlibatan pengusaha nasional dalam rantai pasok industri.

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah yang mendorong keterlibatan UMKM dalam proyek-proyek perusahaan besar harus dimanfaatkan oleh anggota HIPMI untuk memperluas usaha dan meningkatkan daya saing.

“Jangan sampai peluang ini hanya dinikmati pihak lain. Pengusaha nasional harus hadir sebagai pelaku utama dalam rantai pasok industri hilirisasi,” tegasnya.

Melalui Mining Nation Revolution 2026, HIPMI MINERS berharap semakin banyak pengusaha nasional mampu mengambil peran dalam ekosistem industri mineral dan batu bara, memperluas kolaborasi lintas sektor, serta mendorong terciptanya investasi dan kemitraan yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *