Menuju 2029, Jonathan Axel: Generasi Muda Harus Jadi Pemain, Bukan Penonton Demokrasi
*JAKARTA, 22 Juli 2026* –
Menjelang Pemilu 2029, kesiapan generasi muda menjadi kunci. *Jonathan Axel Hernandie*, Anggota DPRD termuda Kab. Belitung dari PSI, mengingatkan bahwa anak muda harus berani jadi pemain utama.
Hal itu ia sampaikan dalam _Public Town Hall IYDF 2026_ bertema “Next-Generation Civic Leadership and Democratic Resilience” yang digelar FPCI di Mayapada Tower, Jakarta, Rabu (22/7).
Acara dibuka oleh Pendiri FPCI *Dr. Dino Patti Djalal* dan Direktur KAS Indonesia *Jan Senkyr*. Forum ini mempertemukan pemimpin muda, akademisi, dan aktivis untuk membahas ketahanan demokrasi.
Jonathan berbagi pengalamannya sebagai legislator termuda di Belitung. “Saya masuk politik bukan karena keluarga politik. Saya masuk karena ingin membuktikan anak muda bisa,” ujarnya.
Ia menyoroti 3 tantangan besar anak muda: apatisme, minimnya pendidikan politik, dan stigma negatif terhadap partai. “Padahal partai adalah kendaraan paling sah untuk mengubah kebijakan,” katanya.
Jonathan menegaskan demokrasi butuh perbedaan. “Kita boleh beda pendapat. Tapi jangan sampai beda tujuan. Tujuan kita sama: Indonesia yang adil dan maju,” ujarnya.
Ia juga mengawal isu RUU Pemilu agar tidak mencederai keterwakilan. “Suara anak muda, suara perempuan, suara daerah harus tetap ada,” tegasnya.
Di Belitung, PSI di bawah kepemimpinannya rutin turun ke desa. “Kami ngobrol dengan anak muda di warung kopi, di kampus, di komunitas. Jelaskan bahwa politik itu tentang hidup mereka,” kata Jonathan.
Ia mengajak agar aksi massa juga berisi solusi. “Sampaikan kritik, tapi lampirkan juga ide. Pemerintah butuh itu untuk memperbaiki kebijakan,” ujarnya.
Terakhir, Jonathan membuka pintu PSI untuk siapa saja. “Tidak perlu punya uang banyak. Cukup punya ide dan keberanian. 2029 adalah panggung kalian,” tutupnya.


















