TIGA KEBAHAGIAAN MANUSIA SEJATI: Mengenang Kepergian Ibu Joke Jemima Raturandang Sumual
Jakarta, Milleniumpost.id
Kepergian seseorang terkadang tidak hanya meninggalkan air mata, tetapi juga warisan kehidupan yang terus berbicara. Demikianlah sosok Ibu Joke Jemima Raturandang Sumual, yang telah berpulang ke rumah Bapa pada Sabtu, 20 Juni 2026, di RS Siloam TB Simatupang.
Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, dan semua orang yang pernah mengenalnya. Namun, di balik kesedihan itu, tersimpan rasa syukur karena Tuhan telah menghadirkan seorang perempuan yang menjalani hidup dengan begitu berarti.
Ibu Joke mengajarkan bahwa umur bukanlah ukuran keberhasilan hidup. Yang menjadi ukuran adalah buah yang ditinggalkan bagi banyak orang.
Di bidang kerohanian, beliau menjadi seorang pelayan yang menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Melalui panggilan yang Tuhan percayakan, beliau menjadi pendiri Gereja Protestan Soteria Indonesia Jemaat Pancaran Kasih Allah. Dari tempat itulah banyak jiwa dikuatkan, banyak hati dipulihkan, dan banyak orang semakin mengenal kasih Kristus. Warisan iman yang beliau tanam akan terus hidup melampaui batas usia.
Di bidang pekerjaan, beliau menunjukkan bahwa iman harus diwujudkan melalui karya nyata. Dedikasi dan kecerdasannya menghasilkan kontribusi yang berharga dalam membangun dan mengembangkan perpustakaan di institusi negara yaitu Lemhanas ( Lembaga Pertahanan Nasional). Apa yang beliau kerjakan menjadi bagian dari pembangunan pengetahuan dan pelayanan bagi bangsa, membuktikan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang tulus akan menjadi berkat bagi banyak orang.
Di dalam keluarga, kasih beliau menjadi fondasi yang kokoh. Beliau membesarkan anak-anak dengan penuh cinta, kesabaran, dan keteladanan. Setelah Tuhan menganugerahkan enam cucu, kasih seorang Oma semakin terpancar. Kehadirannya selalu menghadirkan kehangatan, perhatian, doa, dan pelukan yang menenangkan. Anak-anak dan cucu-cucunya tidak hanya mengenang beliau sebagai seorang ibu atau oma, tetapi sebagai panutan yang menghidupi kasih tanpa syarat.
Jejak kehidupan Ibu Joke mengingatkan kita bahwa keberhasilan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar hidup kita menjadi berkat. Beliau telah menunjukkan bahwa kehidupan yang indah adalah kehidupan yang dipersembahkan bagi Tuhan, dijalani dengan sungguh-sungguh dalam pekerjaan, dan dicurahkan sepenuhnya bagi keluarga.
Karena itu, kehidupan beliau dapat dirangkum dalam sebuah pesan yang akan terus dikenang:
“Tiga kebahagiaan manusia sejati adalah ketika hidup berbuah bagi Tuhan, bermanfaat bagi dirinya dan pekerjaannya, serta bermakna bagi keluarga dan sesama.”
Kini Ibu Joke telah menyelesaikan pertandingan iman dengan baik. Air mata perpisahan memang mengalir, tetapi teladan hidupnya akan terus hidup di hati setiap orang yang pernah disentuh oleh kasihnya.
Terima kasih atas iman yang telah ditanamkan, karya yang telah diwariskan, dan kasih yang telah dicurahkan.
Kiranya Tuhan yang telah Ibu Joke layani dengan setia kini menyambut Ibu Joke dengan penuh kemuliaan.
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)
Warisan terbesar bukanlah harta yang ditinggalkan, melainkan kehidupan yang menginspirasi banyak orang untuk hidup lebih dekat kepada Tuhan, lebih berguna bagi sesama, dan lebih mengasihi keluarga.
Selamat jalan, Ibu Joke Jemima Raturandang Sumual.


















