MENYEMAI EKOPOL HETERODOKS
Oleh: Yudhie Haryono | CEO Nusantara Centre
Memenangkan perang ekonomi itu penting. Tetapi, menyiapkan kader dan kurikulum ekopol, jauh lebih penting. Ini keniscayaan. Tak ada pilihan lain. Sebab, kejahatan terbesar itu bukan korupsi yang tidak tak terbatas, melainkan membuatnya jadi tradisi bahkan agama keseharian generasi setelah kita.
Di negara kita, berpikir alternatif belum terbiasa; bertindak solutif bukan jadi tradisi. Padahal, kemenangan selalu berhubungan dengan alternatif, inovatif dan solutif jenius dari serangan kompetitor. Karenanya, pikiran ekonomi heterodoks harus jadi kurikulum dan tradisi di tengah kompetisi dan perang ekonomi internasional.
Bagaimana cara menyuburkan ekonomi heterodoks? Tentu bukan cuma bikin teori baru, tapi bikin ekosistem yang hidup di semua sistem sekolah (sebagai laboratorium) dan di masyarakat (sebagai praksis keseharian). Lalu, agar resep dan teori-teorinya meluas, kita harus melakukan beberapa hal:
Pertama, kita harus cabut akar para penjajah ekonomi, bukan cuma pangkas daun. Ekonomi penjajah hidup dari 3 mitos yang diajarin di kampus: 1)Pasar bebas itu efisien; 2)Negara tidak boleh intervensi; 3)Utang luar negeri itu baik. Maka, cara ekonomi heterodoks menghapus mitos ini dengan data. Terutama data di desa.
Kita tidak perlu debat teori di seminar. Langsung bawa siswa ke Bank Desa, ke BUMDes, ke KUD. Tanya ke mereka: pasar bebas efisien untuk siapa? Peternak susu kambing mati karena susu impor, di mana efisiensinya? Saat rakyat cari modal, siapa yang menjaminnya? Dengan jawaban dan data di desa, kita akan tahu bahwa ekonomi heterodoks subur kalau basis buktinya adalah penderitaan rakyat, bukan jurnal Scopus dan buku-buku ekonomi ortodoks.
Kedua, kita bikin trias ekonomika jadi nyata, bukan hanya wacana. Sebab, trias ekonomikus itu kunci: 1)Bank Desa (bukan bank asing) harus hadir dan jadi pusat permodalan, bukan rentenir yang birokratis, mencekik dan memberatkan rakyat. 2)BUMDes sebagai pasar yang bertugas jadi offtaker. Ini yang bikin jual beli jadi waras dan manusiawi. BUMDes membeli hasil warga dengan harga berkeadilan. Bukan tengkulak. 3)KUD sebagai pusat tenaga kerja dan koperasi produksi milik bersama. Dengan KUD ini semua dapat bekerja, tidak ada pengangguran. Dari mereka, oleh mereka dan untuk mereka. Desa mandiri dan berdaulat. Kalau 3 lini berjalan, ekonomi heterodoks mentradisi dengan sendirinya.
Ketiga, kita harus terus semai pikiran, kurikulum dan bahasa. Ini penting karena ekonomi penjajah menang karena bahasanya keren: startup, unicorn, inklusi keuangan, dll. Para ekonom eterodoks harus bikin bahasa baru yang membumi: 1)Ganti istilah “value chain” jadi “rantai gotong royong”; 2)Ganti “financial inclusion” jadi “kedaulatan modal desa”; 3)Masukkan ke naskah akademik RUU, bahwa setiap UU ekonomi wajib ada pasal uji Pancasila. Misalnya, apakah UU ini memperkuat Bank Desa atau bank asing? Memperkuat BUMDes atau mematikannya? Memperkuat KUD atau mematikannya?
Keempat, kita harus bikin jaringan, bukan sekadar komunitas epestemik. Hal ini karena ekonomi heterodoks mati kalau sendirian; mudah goyah jika tak ada barisan; mudah patah kalau tak jadi pasukan. Karenanya, konsolidasi sekolah, kampus dan pesantren jadi sangat penting. 1)Kita harus temukan dosen yang anti-penjajah; 2)Bikin gabungan gerakan serikat petani, serikat nelayan, forum guru, dll; 3)Bikin media alternatif: podcast, TikTok, buku kecil, fb, pamplet, dll.
Kelima, kita harus punya proyek percontohan yang untung dan stabil. Hal ini karena teori tanpa bukti adalah mati (omon-omon). Harus ada 1 desa yang berhasil karena desa itu jadi laboratorium hidup. Singkatnya, rumus cepat memenangkan ekonomi heterodoks di Indonesia adalah sehatkan Bank Desa, BUMDes, KUD, serta hadirkan kurikulum berdikari, berdaulat, jenius dan membela kepentingan sesama pribumi tanpa pandang bulu.
Sebab, para pribumilah “pendiri negara, pemilik negara dan penguasa negara.” Tetapi karena ribut sendiri (paregreg), bencana alam (disaster), invasi asing-aseng (kolonialisme) serta adu domba (devide et impera), kini pribumi jadi tamu dan budak di tanah airnya sendiri.
Agar jadi tuan, mari kita jalankan peta jalan ekonomi heterodoks: 1)Kita hindari perang dagang, tapi menangkan perang dapur dengan industrialisasi dan cintai, miliki, kembangkan produk sendiri. 2)Kita jadikan rupiah berdaulat (lewat Bank Desa) sebagai senjata utama. Mengapa ini penting? Karena kita sering kalah perang ekonomi dan perang uang. Rupiah kita dikontrol dollar sehingga lemah, depresiasi dan tak berdaulat.
3)Selanjutnya kita bikin kartel rakyat yang fokus di komoditas primer. 4)Kita gunakan taktik gerilya Soedirman untuk industri, perdagangan dan perluasan pasar. 5)Kita rubah index lama menjadi “menang itu kalau rakyat kenyang dan senang, bukan kalau impor naik, utang menggunung dan miskin sepanjang tahun.(*)














