Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) Gelar Diskusi Kebangsaan I

11
×

Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) Gelar Diskusi Kebangsaan I

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) Gelar Diskusi Kebangsaan I

Example 300x600

 

Jakarta, 22 Juli 2026 –

 

 

Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Republik Indonesia bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) menggelar Diskusi Kebangsaan Chapter 1 di BRILiaN Club, Jakarta Selatan, Rabu (22/7). Forum ini menjadi langkah konkret memperkuat sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mendukung berbagai program strategis nasional melalui pendekatan ilmiah, riset, dan inovasi.

 

Kegiatan ini membahas sinergi pemerintah dan perguruan tinggi terkait isu strategis nasional, meliputi ketahanan pangan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan sumber daya manusia, pembiayaan pendidikan tinggi, serta penguatan riset dan inovasi nasional.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juni lalu. Sebanyak 20 rektor perguruan tinggi negeri dari berbagai wilayah Indonesia hadir untuk merumuskan kontribusi nyata dunia akademik terhadap pembangunan nasional.

Diskusi berlangsung intensif selama hampir lima jam dengan membahas lima isu strategis, yakni penguatan sektor kesehatan melalui pendidikan dokter spesialis, ketahanan pangan dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata kelola perguruan tinggi, pembiayaan pendidikan tinggi yang lebih berkeadilan, serta penguatan riset dan inovasi nasional melalui program Rute Peradaban Nusantara.

Kepala BAPPISUS RI, Aris Marsudiyanto, SE., MM., menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menyusun sekaligus mengawal implementasi kebijakan nasional yang berbasis data dan riset.

“Perguruan tinggi merupakan tempat lahirnya sumber daya manusia unggul sekaligus pusat lahirnya gagasan dan inovasi. Karena itu, ide-ide dari kampus tidak boleh berhenti di ruang diskusi, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Aris, BAPPISUS akan berperan sebagai jembatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar berbagai rekomendasi akademik dapat ditindaklanjuti secara teknis dalam pelaksanaan program pemerintah.

Dalam kesempatan itu, Aris juga menekankan pentingnya membangun kualitas lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan daya saing global. Ia memperkenalkan konsep lima kecerdasan (Five Quotients) yang harus dimiliki setiap lulusan perguruan tinggi, yakni Intellectual Quotient (IQ), Spiritual Quotient (SQ), Emotional Quotient (EQ), Creativity Quotient (CQ), dan Adversity Quotient (AQ).

Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan integritas, etika, kemampuan mengelola emosi, kreativitas dalam menciptakan solusi, serta ketangguhan menghadapi tekanan dan kompetisi global.

“Kita ingin melahirkan generasi yang pintar sekaligus bermartabat. Dunia semakin kompetitif sehingga mahasiswa harus memiliki kemampuan akademik, karakter, kreativitas, dan daya juang yang kuat agar mampu bersaing di tingkat internasional,” tegasnya.

Aris juga mendorong perubahan pola pikir generasi muda dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Ia menilai jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan sejak dini agar lulusan perguruan tinggi mampu menciptakan nilai tambah bagi dirinya maupun masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga tengah merumuskan berbagai strategi untuk menarik talenta terbaik Indonesia yang berkarier di luar negeri agar kembali berkontribusi membangun bangsa melalui kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan industri nasional.

 

Sementara itu, Ketua MRPTNI Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT. menyampaikan bahwa Diskusi Kebangsaan merupakan forum konsultasi strategis yang memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan bangsa.

“Perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga memiliki tanggung jawab memberikan kontribusi pemikiran berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai isu strategis nasional,” katanya.

Eduart menjelaskan bahwa lima isu utama yang dibahas pada Chapter 1 akan menjadi dasar penyusunan langkah-langkah implementatif yang melibatkan berbagai kementerian, lembaga, serta perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia menegaskan bahwa kampus tidak hanya berperan sebagai penyedia fasilitas pendukung, tetapi juga sebagai laboratorium riset untuk mengkaji efektivitas program, kualitas gizi, rantai pasok, hingga dampaknya terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Kampus hadir untuk memberikan rekomendasi berbasis penelitian sehingga Program MBG dapat terus disempurnakan dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” jelasnya.

Pada bidang riset, MRPTNI juga mendorong pengembangan Rute Peradaban Nusantara, sebuah program penelitian kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi di berbagai daerah untuk menggali sejarah, budaya, hukum, ekonomi, dan nilai-nilai peradaban Indonesia sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa.

Di bidang pendidikan tinggi, Eduart memastikan seluruh perguruan tinggi negeri tetap berkomitmen menjaga akses pendidikan bagi mahasiswa berprestasi, termasuk melalui berbagai skema bantuan pendidikan, beasiswa, dan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang lebih terjangkau.

“Kami tidak ingin ada anak-anak Indonesia yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan tinggi hanya karena keterbatasan ekonomi. Itu menjadi komitmen bersama seluruh perguruan tinggi negeri,” tegasnya.

Melalui Diskusi Kebangsaan Chapter 1, BAPPISUS dan MRPTNI berharap terbangun mekanisme kolaborasi yang berkelanjutan antara pemerintah dan dunia akademik. Forum ini diharapkan menjadi ruang lahirnya berbagai rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan yang mampu memperkuat pembangunan nasional, meningkatkan daya saing Indonesia, serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *