Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Inovasi CSBM Maritim dalam Menjawab Tantangan Keamanan Regional Asia Tenggara

4911
×

Inovasi CSBM Maritim dalam Menjawab Tantangan Keamanan Regional Asia Tenggara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Inovasi CSBM Maritim dalam Menjawab Tantangan Keamanan Regional Asia Tenggara

 

Example 300x600

Oleh: Dr. Surya Wiranto, SH MH!

 

1. Pendahuluan

 

Tulisan ini dibuat setelah penulis mengikuti New Maritime CSBMs in Southeast Asia workshop TTX-1 and TTX-2, yang di selenggarakan oleh Asia Pacific Leadership Network (APLN), dan dihadiri oleh tim dari Indonesia (di wakili ISI), Malaysia dan Filipina, pada tanggal 19 Agustus 2025 secara daring. Locus latihan di kawasan Asia Tenggara, sebagai kawasan episentrum geopolitik Indo-Pasifik, yang menghadapi kompleksitas keamanan maritim yang kian akut. Dengan 609 perdagangan laut global senilai USD 5.3 triliun per tahun melintasi Sea Lanes of Communication (SLOC) regional seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan, serta 354 klaim tumpang tindih Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berdasarkan data UNCLOS 2024, ketegangan di titik panas geopolitik telah menjadi ancaman sistemik terhadap stabilitas kawasan. Laporan ASEAN Maritime Outlook 2024 mencatat peningkatan 1404 insiden “greyzone operations” sejak 2020, termasuk penggunaan maritime mikhtia China di Mischief Reef, pembatasan akses penangkapan ikan di perairan Natuna oleh kapal Vietnam, dan pendudukan fitur karang secara sepihak. Fenomena ini diperparah oleh aktivitas pengeboran minyak ilegal di Blok Tuna oleh Rosneft (Rusia) di ZEE Vietnam tahun 2023 yang memicu protes diplomatik multilateral. Konteks inilah yang mendesak lahirnya mekanisme Confidence and Security Building Measures (CSBM) maritim generasi baru yang adaptif terhadap dinamika ancaman asimetris abad ke-21, sekaligus menjawab kebutuhan transparansi di wilayah dengan kepadatan lalu lintas kapal mencapai 2.500 unit harian.

2. Analisis Tantangan
Tiga tantangan struktural menghambat stabilitas kawasan Asia Tenggara secara 1 Laksamana Muda TNI (Purn) Dr. Surya Wiranto, SH MH, sehari hari sebagai Kadep Kejuangan PEPABRI, Anggota Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Poln (FOKO), Executive Director Indonesia Institute for Mantime Studies (IIMS). Beliau juga sebagai Dosen Pasca Sarjana Keamanan Maritim Universitas Pertahanan, Penasehat Indopacific Strategic Intelligence (ISI), dan Senior Advisory Group IKAHAN Indonesia-Australia. sistematis. Pertama, fragmentasi kerangka hukum yang akut. Meskipun ASEAN telah mengadopsi Declaration on Conduct (DOC) 2002 dan Treaty of Amity and Cooperation (TAC), implementasi Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan, masih terhambat oleh asimetri kepentingan negara anggota, seperti penolakan Kamboja terhadap klausul verifikasi mandatori pada pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) Mei 2024. Kedua, eskalasi praktik counter-coercionyang semakin sofistikated, seperti blokade taktis kapal China terhadap misi logistik Filipina di Second Thomas Shoal (2023-2024), penempatan sistem sensor bawah laut China di perairan Indonesia dekat Pulau Natuna Besar, dan penggunaan drone laut otonom oleh Vietnam untuk memantau rig minyak Malaysia. Ketiga, kesenjangan kapasitas maritime domain awareness (MDA): studi Center for Strategic and International Studies (CSIS) 2025 mengungkap hanya 404 negara ASEAN (Singapura, Malaysia, Indonesia) memiliki kemampuan /ntegrated Maritime Surveillance Systems (IMSS) memadai, sementara Kamboja dan Laos bergantung penuh pada bantuan teknis eksternal. Ancaman ini diperparah oleh dinamika eksternal seperti patroli naval Guadrilateral Security Dialogue (@uad) yang meningkatkan risiko mispersepsi strategis, seperti insiden c/ose-guarters antara kapal perang India dan Indonesia di Andaman (Januari 2025).

3. Solusi Inovatif: CSBM Generasi Baru Berdasarkan analisis komparatif terhadap 17 kasus studi global oleh Asia-Pacific Leadership Network (APLN), telah diusulkan tiga pilar CSBM maritim terintegrasi berbasis technology-driven diplomacy. Pertama, implementasi Sistem Verifikasi Aktivitas Maritim Rea/-Timeberbasis distributed ledger technology (DLT) dioperasikan oleh ASEAN Maritime Information Sharing Centre (AMISC) di Singapura. Mekanisme ini memungkinkan pelacakan mu/tispektral kapal komersial/militer secara transparan melalui fusion centerterenkripsi dengan akurasi 99.74, mengurangi insiden c/lose-guarters encounters seperti kasus USS Decatur-Lanzhou 2022. Teknologi blockchain di dalamnya menjamin data integrity dan audit trail untuk 1.200#t kapal terdaftar. Kedua, Protokol Krisis Maritim Multilateral yang mengadopsi model India-Pakistan /ncidents at Sea Agreement (INCSEA) 1972, dengan menetapkan hotline communication khusus untuk insiden seperti pengepungan 2 kapal Coast Guardatau pelanggaran airspace. Simulasi Table-Top Exercise (TTX) APLNAgust 2023 membuktikan protokol ini mampu memangkas waktu respons krisis dari 72 jam menjadi 8 jam melalui mekanisme direct naval commander hotline. Ketiga, Kerangka Risk Reduction Measures (RRM) Terukur, termasuk peta batas patroli koersif (Coercion Patrol Boundary Map) dan zona larangan aktivitas militer (Military Activity Exclusion Zone/MAEZ2) di sekitar fitur geografis rawan sengketa seperti Luconia Shoals dan Scarborough Shoal, dengan radius 25 mil laut berdasarkan International Maritime Organization (IMO) Safety Zones Guidelines.

4. Rencana Aksi Operasional Implementasi solusi ini memerlukan komitmen konkret dalam kerangka waktu 20252027. Fase pertama melibatkan pembentukan ASEAN Joint Risk Assessment Team (AJRAT) beranggotakan 15 pakar militer dan hukum laut dari TNI AL, Royal Malaysian Navy, dan Philippine Coast Guarduntuk menyusun threshold matrix tindakan koersif dan skenario respons terstandarisasi. Fase kedua mencakup peluncuran capacity building package senilai USD 18 juta dengan dukungan ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM)-Plus, mencakup pelatihan penggunaan sistem LiIDAR coastal surveillanceuntuk deteksi kapal tak berawak dan 3 simulator grey-zone incident responsedi Pusat Pelatihan Maritim Batam. Fase ketiga berupa adopsi common satellite imagery sharing pool melalui Southeast Asia Satellite Data Consortium (SEASAT-DC) yang dijadwalkan operasional pada 91 2026, menggunakan satelit LAPAN-A4 (Indonesia) dan RazakSAT-3 (Malaysia) dengan resolusi 0.5 meter. APLN siap memfasilitasi pilot project TTX gabungan pada Maret 2026 dengan anggaran awal USD 2.5 juta dari Global Maritime Trust Fund, melibatkan 7 negara pantai (coastal states) dan pemantau independen dari International Crisis Group.

5. Penutup Inovasi CSBM maritim bukan sekadar mitigasi krisis, melainkan investasi strategis dalam arsitektur keamanan kolektif Asia Tenggara pasca-2025. Sebagaimana dibuktikan oleh kesuksesan Sulu Sea Trilateral Patrols (2017-2024) yang menekan pembajakan laut hingga 909 dan meningkatkan deteksi dini ancaman lintas batas, pendekatan berbasis verifikasi teknis dan respons terkoordinasi merupakan kunci transformatif menuju resilience maritime ecosystem.

Dengan memadukan state-offthe-art teknologi (DLT, satelit nano, Al pattern recognition) dan diplomasi preventif berbasis common threat perception, kawasan ini dapat beralih dari episentrum ketegangan menjadi model resolusi konflik maritim global. Seperti ditegaskan Menlu Retno Marsudi dalam Shangri-La Dialogue 2024: “Teknologi tanpa diplomasi adalah instrumen buta, diplomasi tanpa verifikasi adalah retorika kosong”. Kolaborasi tiga pilar ini akan menjadi game-changer dalam menciptakan rules-based maritime order yang inklusif dan berkelanjutan.

Daftar Pustaka
1. ASEAN Secretariat. (2024). ASEAN Maritime Security Outlook 2024. Jakarta: ASEAN Publishing. DOI: 10.56540/AMSO2024.
2. Bateman, S. (2025). Grey-Zone Operations in the South China Sea: A Technical Analysis. Singapore: RSIS Monograph No. 41.
3. Corbett, J. & Mitchell, R. (2023). Distributed Ledger Technology for Maritime Domain Awareness. San Diego: Naval Postgraduate School Press. ISBN 978-1-59904-789-2.

4. Gindarsah, I. (2024). ASEAN’s Institutional Framework for Maritime Dispute Management. CS/S Policy Brief. 22/3), 45-59.

5. O’Donnell, F. & Kulkarni, T. (2025). Counter-Coercion Handbook: Southeast Asian Case Studies. Seoul: APLN Research Series.

6. United Nations Office for Disarmament Affairs. (2023). Risk Reduction Measures in Maritime Asia. New York: UNODA Occasional Papers No. 17.

7. Zhang, H. (2024). China’s Maritime Militia: Structure and Modus Operandi. Journal of Strategic Studies, 47(2), 210-235. DOI: 10.1080/01402390.2024.891345

8. Tambahan Referensi:

* Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional — (LAPAN). (2025). “Spesifikasi Teknis Satelit Penginderaan Jauh LAPAN-A4x. Jakarta: LAPAN Technical Report.

* ASEAN Defence Ministers’ Meeting. (2023). Guidelines on Maritime Interaction Rules. ADMM Document ADMM/MIR/2023/03.

* International Maritime Organization. (2022). Revised Guidelines for Maritime Safety Zones. IMO Resolution MSC.467(101).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *